JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) merespons laporan lembaga pemeringkat kredit internasional Moody’s yang menurunkan outlook atau prospek peringkat, menegaskan bahwa posisi permodalan, likuiditas, dan fundamental keuangan bank tetap kuat serta sehat. Pernyataan ini disampaikan untuk menepis kekhawatiran bahwa perubahan outlook mencerminkan pelemahan kinerja internal perseroan, yang menurut manajemen tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Penilaian Moody’s dan Respons BNI
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa penyesuaian outlook Moody’s lebih berkaitan dengan perubahan outlook sovereign atau negara Indonesia, bukan karena kinerja fundamental BNI. Menurutnya, hal itu bukan indikasi penurunan kualitas keuangan atau risiko internal bank. “Hal ini tidak mencerminkan penurunan kinerja keuangan maupun profil risiko internal BNI,” ujar Okki.
Ia turut menegaskan bahwa BNI masih berada pada level investment grade, sebuah penilaian yang berarti bank masih dianggap layak investasi oleh pasar dan lembaga pemeringkat. Okki menunjuk capaian kinerja perusahaan sampai akhir tahun buku 2025 sebagai bukti bahwa fundamental perseroan tetap terjaga dengan baik.
Kondisi Finansial BNI Hingga Akhir 2025
Okki menyampaikan bahwa indikator utama seperti permodalan, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas tercatat pada level yang sehat serta sesuai dengan ketentuan regulator. Struktur pendanaan yang dikelola secara hati-hati secara fundamental mendukung ketahanan bank terhadap tekanan eksternal.
Data internal BNI menunjukkan pertumbuhan kredit yang solid sepanjang 2025, salah satunya tercatat pertumbuhan kredit 15,9 persen YoY yang disokong oleh ekspansi ke sektor produktif dan peningkatan penghimpunan dana murah (current account dan savings account). Selain itu, struktur pendanaan berbasis CASA yang kuat memperkuat efisiensi biaya dana, sekaligus menjaga likuiditas perseroan tetap optimal di tengah tekanan pasar.
Dari sisi lain, pertumbuhan laba bersih BNI juga terlihat positif sepanjang tahun buku 2025 yang mencerminkan ketahanan model bisnis dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan domestik.
Strategi Keberlanjutan dan Manajemen Risiko
Menyikapi perubahan outlook, BNI terus memperkuat pengelolaan bisnis yang berfokus pada kehati-hatian dan keberlanjutan. Okki menekankan bahwa strategi penyaluran kredit tetap selektif dan terukur, mengedepankan kualitas serta prinsip kehati-hatian dalam seluruh aspek operasional. Langkah ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga stabilitas dan ketahanan portofolio kredit bank.
Selain itu, manajemen BNI terus menguatkan tata kelola dan manajemen risiko sebagai bagian dari upaya untuk menghadapi tantangan eksternal. Kegiatan ini mencakup penajaman sistem pengawasan internal dan perilaku risiko yang lebih proaktif, sehingga bank dapat tetap responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan pasar.
Kolaborasi dengan Regulator dan Otoritas Keuangan
Okki juga menyampaikan bahwa BNI aktif bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta kepercayaan pasar. Menurutnya, hubungan yang baik dengan otoritas berwenang membantu memperkuat ketahanan sektor perbankan secara keseluruhan.
Sinergi ini dianggap penting, terutama di tengah kondisi global yang dinamis dan berbagai tekanan ekonomi yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan domestik. Dengan melakukan kolaborasi strategis dan berkelanjutan bersama regulator, BNI optimistis mampu mempertahankan momentum pertumbuhan serta adaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis.
Prospek dan Tantangan Ke Depan
Walaupun outlook Moody’s mengalami penyesuaian, Okki menekankan bahwa penilaian tersebut tidak mengubah arah strategis BNI dalam mengelola bisnis secara prudent. Dengan mempertahankan fokus pada kualitas aset, likuiditas, permodalan, dan profitabilitas, BNI yakin dapat melanjutkan pertumbuhan yang sehat secara berkelanjutan.
BNI juga melihat bahwa fundamental ekonomi Indonesia relatif tetap kuat, meski ada kekhawatiran di tingkat global yang memengaruhi sentimen pasar, seperti volatilitas suku bunga dan risiko pasar internasional. Ke depan, BNI akan terus menyesuaikan strategi bisnisnya untuk merespons dinamika tersebut sambil menjaga kepercayaan investor dan nasabah.
Dengan berbagai langkah strategis yang diambil, BNI berharap dapat menghadapi tantangan eksternal sekaligus terus tumbuh sebagai lembaga keuangan yang solid, kompetitif, serta beradaptasi terhadap perkembangan ekonomi domestik dan global.