INVESTASI

Investasi PGE: 3 Juta Dollar AS untuk Pilot Proyek Hidrogen Hijau

Investasi PGE: 3 Juta Dollar AS untuk Pilot Proyek Hidrogen Hijau
PGE Siapkan Investasi Tiga Juta Dolar untuk Pilot Proyek Hidrogen Hijau

JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyiapkan investasi awal sebesar tiga juta dolar AS untuk merealisasikan proyek percontohan atau pilot project pengembangan hidrogen hijau. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan dalam memperluas pemanfaatan energi panas bumi sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Dorong Transisi Energi Melalui Hidrogen Hijau

Pengembangan hidrogen hijau dipandang sebagai salah satu terobosan penting dalam mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi baru terbarukan. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menegaskan bahwa pasar hidrogen hijau memiliki prospek yang sangat menjanjikan, baik untuk kebutuhan industri maupun transportasi pembangkit.

“Pasar green hydrogen meningkat cukup signifikan pada 2023–2024 baru sebesar dua juta ton. Sementara tahun 2060 progresnya diperkirakan naik signifikan sekitar 40 juta ton untuk kebutuhan secara global,” kata Yuliot Tanjung saat peletakan batu pertama Green Hydrogen Pilot Project di PGE Ulubelu, Tanggamus, Selasa, 9 September 2025.

Ia menambahkan, hidrogen hijau tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menjadi komoditas ekspor energi masa depan. “Ke depan ekspor energi bukan lagi minyak tapi hidrogen untuk memenuhi kebutuhan global,” ujarnya.

Nilai Investasi Awal dan Rencana Pengembangan

Dari sisi investasi, Yuliot menjelaskan bahwa rencana pengembangan hidrogen hijau oleh Pertamina akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, pilot project ini menghabiskan dana sekitar tiga juta dolar AS. Setelah tahap percontohan berjalan optimal, implementasi akan diperluas dengan skala produksi yang lebih besar hingga mencapai keekonomian proyek.

“Rencana investasi Pertamina untuk pembangunan green hydrogen sebesar 1 miliar dolar AS hingga berfungsi secara maksimal. Saat ini green hydrogen pilot project-nya baru 3 juta dollar AS. Nanti implementasinya kita bisa duplikasi tahap produksinya, tahap pertama berapa, tahap kedua berapa, hingga skala ekonomis dan masuk secara keseluruhan,” jelas Yuliot.

Langkah ini menegaskan keseriusan PGE dalam mengembangkan energi hijau berbasis panas bumi, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pionir dalam pemanfaatan hidrogen hijau di Indonesia.

Peran Panas Bumi dalam Produksi Hidrogen Hijau

Pemanfaatan panas bumi menjadi kunci dalam pengembangan hidrogen hijau. Energi panas bumi menyediakan sumber listrik bersih yang stabil untuk proses elektrolisis air, sehingga hidrogen yang dihasilkan benar-benar ramah lingkungan.

Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia. Kondisi ini menjadi keunggulan strategis bagi PGE dalam mengembangkan hidrogen hijau secara kompetitif. Dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah, produksi hidrogen hijau diharapkan dapat dilakukan dengan biaya yang semakin efisien.

Yuliot juga menyoroti komitmen negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Italia dalam mengembangkan hidrogen hijau sebagai bagian dari rantai pasok industri dan transportasi. Hal ini membuka peluang kerja sama internasional sekaligus potensi pasar ekspor yang luas bagi Indonesia.

Peluang Ekonomi dan Dampak Lingkungan

Pengembangan hidrogen hijau tidak hanya berdampak pada penurunan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Hidrogen hijau dinilai mampu menciptakan nilai tambah, menarik investasi, serta membuka lapangan kerja di berbagai sektor.

Dalam konteks target pengurangan emisi karbon nasional, proyek ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai net zero emission pada 2060. Pemanfaatan hidrogen hijau di sektor industri dan transportasi diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil secara signifikan.

Selain itu, penggunaan hidrogen hijau sebagai sumber energi alternatif juga berpotensi menurunkan biaya energi dalam jangka panjang. Seiring perkembangan teknologi dan peningkatan skala produksi, harga hidrogen hijau diperkirakan akan semakin kompetitif.

Strategi Jangka Panjang PGE di Sektor Energi Bersih

Investasi tiga juta dolar AS pada tahap awal ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang PGE dalam memperluas rantai nilai panas bumi. Selama ini, panas bumi dimanfaatkan terutama untuk pembangkit listrik. Melalui pengembangan hidrogen hijau, PGE memperluas pemanfaatan energi panas bumi ke sektor bahan bakar bersih.

PGE menilai bahwa diversifikasi produk energi hijau akan memperkuat daya saing perusahaan sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. Pengembangan hidrogen hijau juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari industri, transportasi, hingga pembangkit listrik.

Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan minat investor global yang terus meningkat, PGE optimistis proyek hidrogen hijau dapat berkembang pesat dalam beberapa tahun ke depan. Tahap percontohan diharapkan menjadi fondasi penting untuk ekspansi skala besar yang berkelanjutan.

Komitmen Terhadap Transisi Energi Nasional

Langkah PGE ini mencerminkan komitmen kuat BUMN energi dalam mendukung agenda transisi energi nasional. Investasi pada pilot project hidrogen hijau menjadi bukti nyata bahwa sektor energi Indonesia mulai bertransformasi menuju sistem yang lebih bersih, efisien, dan ramah lingkungan.

Ke depan, keberhasilan proyek percontohan ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah dengan potensi panas bumi besar. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan energi domestik yang berkelanjutan, tetapi juga berpeluang menjadi pemain utama dalam pasar hidrogen hijau global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index