JAKARTA - Menjelang puncak pergerakan masyarakat pada periode Ramadan dan Lebaran 2026, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan pemeriksaan komprehensif terhadap seluruh aspek operasional LRT Jabodebek di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kesiapan jaringan rel, stasiun, serta fasilitas pendukung agar moda transportasi berbasis rel ini dapat mengantisipasi lonjakan pengguna secara aman, nyaman, dan efisien.
Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menekankan bahwa kesiapan layanan menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik, terutama pada momen Lebaran mendatang. Dalam keterangan resminya, Radhitya menyatakan:
“Pada periode Lebaran, kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik yang aman dan dapat diandalkan meningkat signifikan. Melalui pemeriksaan menyeluruh ini, KAI memastikan seluruh sistem dan fasilitas LRT Jabodebek siap melayani mobilitas masyarakat secara tertib, nyaman, dan berkelanjutan.”
Pernyataan ini menjadi lead yang menggarisbawahi bahwa bukan sekadar kesiapan teknis, tetapi juga kepercayaan publik yang menjadi perhatian utama dalam inspeksi yang dilakukan oleh tim gabungan DJKA Kemenhub dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI).
Rangkaian Pemeriksaan dan Komponen yang Ditinjau
Dalam pemeriksaan tersebut, tim meninjau total 18 stasiun LRT Jabodebek beserta seluruh rangkaian kereta yang akan difungsikan selama peningkatan mobilitas masyarakat. Pemeriksaan difokuskan pada aspek-aspek krusial seperti keselamatan sistem, keandalan operasional, keamanan, serta kenyamanan bagi pengguna.
Tim juga menilai kemudahan akses bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk layanan prioritas yang akan sangat dibutuhkan selama periode dengan mobilitas tinggi. Khususnya, perhatian ditempatkan pada akses dan fasilitas untuk kelompok rentan seperti:
lanjut usia (lansia),
penyandang disabilitas,
ibu hamil,
dan pengguna dengan anak.
“Kami memberikan perhatian khusus pada fasilitas bagi lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, serta pengguna dengan anak, untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat melakukan perjalanan dengan aman dan tenang selama menggunakan LRT Jabodebek,” ujar Radhitya.
Penggunaan fasilitas yang inklusif ini diharap mampu menjaga keterpaduan layanan publik dan mendukung mobilitas masyarakat secara lebih merata.
Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa layanan LRT Jabodebek secara umum telah memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan pemerintah. Seluruh rangkaian pemeriksaan ini menjadi acuan operasi berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum, yang mengatur standar teknis dan operasional moda angkutan umum berbasis rel.
Radhitya menegaskan kembali komitmen LRT Jabodebek dalam menyuguhkan layanan transportasi publik tak hanya sebagai moda harian, tetapi juga sebagai jaringan yang siap menghadapi tantangan mobilitas masyarakat selama periode angkutan Lebaran. Dia menyatakan:
“Melalui langkah ini, KAI menegaskan komitmennya untuk menghadirkan LRT Jabodebek yang tidak hanya sebagai moda transportasi publik perkotaan harian, namun juga siap menghadapi tantangan mobilitas saat Angkutan Lebaran, yang mendukung pergerakan masyarakat secara lebih aman, efisien, dan terintegrasi.”
Pernyataan ini menjadi titik penting dalam artikel, menggambarkan bahwa kesiapan layanan adalah bagian dari strategi lebih luas pemerintah dalam penanganan mobilitas terpadu.
Tren Kenaikan Pengguna dan Titik-Titik Padat Pengguna
Data awal tahun 2026 menunjukkan tren positif dalam penggunaan LRT Jabodebek. Pada pekan pertama Januari 2026, jumlah pengguna mencapai 552.105 orang, meningkat sekitar 27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 434.369 pengguna.
Radhitya mengatakan bahwa tren awal ini menunjukkan konsistensi penggunaan transportasi publik berbasis rel sebagai pilihan utama mobilitas urban. Selain itu, integrasi antarmoda transportasi turut membantu masyarakat melakukan perjalanan dengan lebih tertata.
Selain tren penggunaan yang meningkat, dibandingkan stasiun-stasiun lain, tiga titik ini menunjukkan jumlah pengguna tertinggi:
Stasiun Dukuh Atas (152.633 pengguna)
Stasiun Harjamukti (125.327 pengguna)
Stasiun Kuningan (111.827 pengguna)
Menurut Radhitya, ketiga stasiun ini menjadi titik awal maupun sambungan perjalanan harian masyarakat dalam aktivitasnya, menandakan pola mobilitas urban yang semakin memanfaatkan integrasi layanan publik.
Catatan Operasional: Pengelolaan Barang Tertinggal
Dalam catatan operasional sepanjang 2025, LRT Jabodebek melaporkan terdapat 6.995 barang tertinggal di area stasiun maupun rangkaian kereta, dengan estimasi nilai mencapai Rp 797,7 juta.
Dari jumlah tersebut, 3.399 barang berhasil dikembalikan kepada pemiliknya, sementara sisanya masih dalam pengelolaan petugas. Radhitya mengatakan bahwa pengelolaan barang bawaan menjadi bagian integral dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan perjalanan pengguna, terutama di tengah lonjakan volume pelayanan harian.
Penutup: Transportasi Terintegrasi Hadapi Lebaran
Secara keseluruhan, pemeriksaan kesiapan LRT Jabodebek menunjukkan bahwa baik aspek teknis maupun layanan publik telah berada pada jalur yang tepat untuk menghadapi kebutuhan mobilitas masyarakat pada periode Ramadan dan Lebaran 2026.
Dengan fokus pada keselamatan, kenyamanan, inklusivitas, dan integrasi sistem, upaya ini diharapkan mampu menjawab tantangan terbesar transportasi publik selama masa puncak pergerakan masyarakat.