JAKARTA - Dalam upaya merawat ingatan kolektif bangsa, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) akan menerbitkan 13 seri prangko sepanjang tahun 2026.
Penerbitan ini menjadi bagian dari strategi negara untuk menjaga rekam jejak sejarah, budaya, dan identitas nasional.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa prangko bukan sekadar alat perangko surat, tetapi memiliki nilai historis dan simbolik yang tinggi.
“Prangko kami tempatkan sebagai bagian dari upaya merawat cerita Indonesia tentang budaya, sejarah, dan jati diri bangsa. Prangko juga merupakan rekam jejak dari perjalanan bangsa yang terus harus kita jaga bersama,” ujar Meutya.
Prangko Sebagai Rekam Jejak Bangsa
Menurut Meutya, penerbitan prangko 2026 disusun sebagai satu rangkaian narasi tentang Indonesia. Dengan pendekatan ini, setiap seri prangko tidak hanya memiliki nilai koleksi, tetapi juga menjadi media edukasi sejarah dan budaya bangsa.
“Melalui katalog Prangko 2026, kami menghadirkan rangkaian penerbitan Prangko yang mencerminkan kekayaan Indonesia, mulai dari warisan budaya dan keragaman hayati hingga peristiwa kebangsaan dan kerja sama internasional,” tambah Meutya.
Prangko bukan sekadar benda koleksi, tetapi juga menjadi penghubung antargenerasi, mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda, pada perjalanan sejarah bangsa dan nilai-nilai budaya yang harus dijaga.
Ragam Seri Prangko 2026
E-katalog Prangko 2026 yang disiapkan oleh Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi memuat 13 seri, antara lain:
Seri Tahun Kuda Api
Seri Wayang Pandawa Lima
Seri Buah-Buahan
Seri Artefak dan Bangunan Bersejarah Kota Palembang
Seri Anak Indonesia Hebat
Seri Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia masa jabatan 2024–2029
Selain itu, penerbitan prangko juga mencakup kerja sama internasional, seperti Indonesia-Uruguay, serta partisipasi dalam pameran filateli internasional:
BOSTON 2026
MACAO 2026
BANDUNG 2026
PHILATAIPEI 2026
Dengan ragam seri ini, prangko 2026 tidak hanya menonjolkan identitas nasional, tetapi juga memperlihatkan posisi Indonesia di kancah internasional melalui filateli.
Prangko Tetap Relevan di Era Digital
Di tengah perubahan digital, prangko tetap memiliki relevansi lintas generasi. Meutya menekankan bahwa prangko menjadi media penghubung antara generasi lama dan muda.
Prangko berfungsi sebagai pengingat identitas bangsa, sekaligus media edukasi tentang sejarah dan budaya Indonesia. Keberadaannya membuktikan bahwa walaupun dunia komunikasi dan informasi telah berubah drastis, benda fisik dengan nilai simbolik tetap memiliki peran penting.
E-katalog Prangko Tahun 2026 dapat diakses melalui kanal digital resmi Kemkomdigi, sehingga masyarakat dari berbagai usia dapat menikmati informasi terkait koleksi prangko, sekaligus mempermudah pengumpulan dan pembelian.
Prangko Sebagai Sarana Edukasi dan Pelestarian Budaya
Setiap prangko memiliki kisah di balik desain dan temanya. Contohnya, Seri Wayang Pandawa Lima tidak hanya menampilkan karakter pewayangan, tetapi juga menyampaikan nilai budaya dan sejarah pewayangan Jawa yang kaya.
Seri Buah-Buahan menghadirkan keragaman hayati Indonesia, mengedukasi masyarakat tentang kekayaan alam lokal yang mungkin jarang dikenal generasi muda. Sementara Seri Anak Indonesia Hebat memberikan inspirasi tentang prestasi dan kontribusi anak bangsa di berbagai bidang.
Dengan demikian, setiap penerbitan prangko 2026 tidak sekadar untuk koleksi, tetapi juga menjadi alat pembelajaran budaya dan sejarah, sekaligus mendorong rasa cinta tanah air.
Menjaga Ingatan Kolektif Melalui Filateli
Prangko memiliki nilai koleksi yang tinggi dan sering dijadikan media pengingat peristiwa penting. Seri Presiden dan Wakil Presiden RI 2024–2029 menjadi contoh bagaimana prangko bisa merekam perjalanan kepemimpinan bangsa.
Selain itu, partisipasi dalam pameran filateli internasional menunjukkan bahwa prangko Indonesia tidak hanya berfungsi di dalam negeri, tetapi juga menjadi duta budaya dan identitas bangsa di mata dunia.
Melalui filateli, masyarakat dapat melacak sejarah, memahami budaya, dan menghargai kerja sama internasional, sekaligus mengapresiasi desain prangko sebagai karya seni yang sarat nilai historis.
Penerbitan 13 seri prangko 2026 oleh Kemkomdigi merupakan langkah strategis dalam melestarikan sejarah, budaya, dan identitas nasional. Prangko menjadi rekam jejak bangsa yang menghubungkan generasi, mengedukasi masyarakat, dan menegaskan posisi Indonesia di kancah internasional.
E-katalog prangko yang dapat diakses secara digital mempermudah masyarakat untuk mengenal, mengoleksi, dan memahami setiap seri prangko. Seri seperti Tahun Kuda Api, Wayang Pandawa Lima, Buah-Buahan, Artefak dan Bangunan Bersejarah, hingga Presiden dan Wakil Presiden mencerminkan kekayaan Indonesia dan perjalanan bangsa yang harus dijaga.
Di era digital, prangko tetap relevan sebagai media penghubung antargenerasi, pengingat identitas bangsa, dan sarana edukasi.
Dengan penerbitan prangko 2026, Kemkomdigi menegaskan komitmen untuk menjaga ingatan kolektif bangsa melalui filateli, sekaligus menghadirkan karya seni bernilai budaya tinggi bagi masyarakat Indonesia.