GGRM Raup Laba Bersih Rp2,97 Triliun di Semester I/2026 berkat Efisiensi

GGRM Raup Laba Bersih Rp2,97 Triliun di Semester I/2026 berkat Efisiensi
Laba Bersih GGRM Melesat 2.440 Persen Jadi Rp2,97 Triliun di Semester I [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) membukukan lonjakan laba bersih hingga ribuan persen pada kurun semester I/2026, kendati di lini top line perseroan mengalami penurunan pendapatan secara tahunan.

Langkah efisiensi menjadi strategi andalan perseroan dalam mendongkrak performa laba, yang tecermin dari postur keuangan perseroan pada enam bulan pertama 2026.

Merujuk laporan keuangan periode Januari-Juni 2026 yang belum diaudit, GGRM membukukan nilai pendapatan senilai Rp41,18 triliun. Angka ini terkoreksi 7,19% year on year (YoY) jika disandingkan dengan periode serupa pada 2025.

Di lain pihak, beban pokok pendapatan berhasil dipangkas 13,28% YoY dari Rp40,58 triliun menjadi Rp35,19 triliun. Alhasil, perolehan laba bruto GGRM terangkat 58,02% YoY dari Rp3,79 triliun menjadi Rp5,98 triliun.

Efisiensi juga terlihat pada pos beban bunga yang melandai tajam, susut 97,94% YoY dari Rp219,35 miliar menjadi Rp4,52 miliar.

Pada lini bottom line, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk atau laba bersih GGRM tercatat menembus Rp2,97 triliun, melonjak drastis 2.440,2% YoY ketimbang perolehan laba bersih semester I/2025 yang sebesar Rp117,16 miliar.

Adapun pilar bisnis utama penjualan rokok tetap menjadi penopang kinerja GGRM secara konsolidasi. Sektor rokok memberikan kontribusi hingga 98% dari akumulasi pendapatan, yakni mencapai Rp40,27 triliun.

 Angka ini susut 7,78% YoY. Kendati demikian, porsi sektor rokok terhadap laba konsolidasi justru melesat 362,31% YoY dari Rp889,12 miliar menjadi Rp4,11 triliun.

Di sisi lain, unit bisnis non-rokok seperti kertas karton, infrastruktur, serta sektor lainnya memberikan dampak negatif bagi laba konsolidasi alias mencatatkan kerugian.

Sementara itu, manakala ditelisik dari pengelompokan jenis produk, pendapatan GGRM dari penjualan rokok masih sangat bergantung pada sigaret kretek mesin (SKM). Kategori SKM menyumbang pendapatan sebesar Rp36,61 triliun atau mewakili 89% dari total pendapatan perseroan, walaupun nilainya terkikis 7,88% YoY.

Berdasarkan cakupan wilayah, pasar domestik menyumbangkan 98% bagi total pendapatan konsolidasi GGRM, dengan nilai mencapai Rp40,52 triliun disandingkan dengan pasar ekspor sebesar Rp661,28 miliar. Walau porsinya hanya 2%, angka penjualan luar negeri ini tumbuh 18,68% YoY.

Dalam kerangka strategi efisiensi yang dijalankan perseroan, pos cukai rokok masih menempati porsi terbesar dari beban pokok pendapatan. Alokasi pita, cukai, PPN, dan pajak rokok menyumbang Rp28,29 triliun atau 80% dari total biaya pokok pendapatan, di mana nilai ini berhasil ditekan 13,97% secara YoY.

Selain beban operasional yang lebih efisien, GGRM juga tercatat sukses mengerek profitabilitas usahanya, yang tecermin dari kenaikan gross profit margin (GPM) sepanjang semester I/2026.

 Lewat kalkulasi komponen laba bruto dan total pendapatan, GPM GGRM periode tahun ini terangkat ke posisi 15%, dibanding 9% pada semester I/2025.

Membedah neraca keuangan, sepanjang Januari-Juni 2026 GGRM mencatatkan total aset mencapai Rp77,79 triliun, naik 3,37% year to date (YtD). Aset tersebut mencakup aset lancar sebesar Rp42,89 triliun dan aset tidak lancar yang mencapai Rp34,89 triliun.

Total liabilitas perseroan naik 8,66% YtD menjadi Rp13,78 triliun, terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp11,77 triliun serta liabilitas jangka panjang Rp2,01 triliun. Adapun total ekuitas GGRM terangkat 2,30% YtD menjadi Rp64,01 triliun.

Dari kalkulasi rasio, debt-to-equity ratio (DER) GGRM pada semester I/2026 berada di level 0,22 kali. 

Hal ini menandakan struktur permodalan GGRM terhitung sangat konservatif, di mana untuk tiap Rp1 ekuitas, perusahaan hanya mengantongi sekitar Rp0,22 liabilitas. 

Dengan kata lain, ketergantungan pada pendanaan utang tergolong rendah dan risiko leverage berada pada level minimal.

Sementara itu, return on equity (ROE) semester I/2026 bertengger di posisi 4,65%, yang mencerminkan kemampuan GGRM dalam mencetak laba dari permodalan pemegang saham masih terhitung terbatas. 

Artinya, tiap Rp100 modal yang ditanamkan oleh pemegang saham menghasilkan keuntungan sebesar Rp4,65.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index