BGN Investigasi Keracunan MBG SMKN 6 Semarang, Hasil Keluar 5-7 Hari

Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:45:01 WIB
BGN Usut Kasus Keracunan MBG SMKN 6 Semarang, Hasilnya 5-7 Hari [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) masih mendalami penyebab dugaan keracunan yang menimpa 707 siswa dan guru di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah.

Kepala BGN Sudaryono menyampaikan, hasil uji laboratorium diperkirakan akan keluar dalam waktu 5 hingga 7 hari mendatang.

“Kami lagi cek minta dari Dinas Kesehatan untuk dicek lab-nya. Kami butuh waktu paling tidak, ya, 7 hari, 5 hari kerja untuk sampai dengan hasilnya. Kemudian, kami bisa lihat hasil lab-nya,” kata Sudaryono, Minggu (2/8/2026).

Beriringan dengan langkah tersebut, BGN menghentikan sementara (suspend) kegiatan operasional SPPG Karangturi.

Berdasarkan hasil penelusuran awal, BGN menduga insiden ditengarai oleh beberapa bahan makanan, seperti daun singkong hingga bumbu rendang, serta jeda waktu memasak yang terlalu dini sebelum makanan dibagikan.

“Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain,” ucap dia.

Dugaan tersebut muncul lantaran sejumlah sekolah lain yang mendapatkan pasokan menu dari SPPG yang sama tidak mengalami masalah keracunan. Bedanya, distribusi menu untuk sekolah lain dilakukan lebih awal.

“Jadi dari mulai jam 9 (malam) sudah mulai masak. Itu kemudian diberikan sekitar jam 9 atau jam 10 (pagi). Jadi ini cukup lama, karena yang diberikan makan bukan hanya SMK Negeri 6, tetapi juga beberapa sekolah yang lain. Nah sekolah yang lain itu diberikan lebih pagi. Jadi kondisi makanannya masih fresh, masih baik,” beber Sudaryono.

Ia menegaskan, BGN sedang merancang sistem pemantauan agar insiden serupa tidak kembali terjadi. Sistem ini bakal mendeteksi waktu memasak, waktu penyiapan, hingga waktu penyaluran secara real-time.

Sudaryono berharap, rencana pengembangan sistem ini rampung dalam kurun dua pekan ke depan. Dengan demikian, para orang tua bisa langsung memantau dan melihat menu yang akan dikonsumsi anak-anak mereka.

“Kami harapkan orang tua siswa, guru, dan barangkali Dinas Kesehatan bisa melihat jam berapa dimasak, apa saja yang dimasak, bumbu apa yang dimasukkan, itu harus kemudian tersistem kami termonitor semua. Yang bisa dimonitor oleh semua orang,” ungkap Sudaryono.

Ia mengingatkan pihak SPPG untuk selalu mematuhi SOP yang telah ditetapkan. Pihaknya juga meminta Kepala SPPG bertindak tegas terhadap segelintir pelanggaran atau ketidakpatuhan atas SOP.

“Saya paham Anda punya chef, Anda punya pengawas gizi, Anda punya orang-orang yang kerja di situ. Barangkali mungkin ada satu dua yang ada yang ngeyelan, lah, harus ada leadership di situ. Karena nyawa, kesehatan dan nyawa seseorang itu sangat berarti,” ujar dia.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru diduga keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 6 Kota Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (31/7/2026).

Dari keseluruhan korban, 698 orang ditangani langsung di lokasi, sedangkan 9 orang dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani pemantauan lebih lanjut. Para siswa dilaporkan mengalami gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare.

Terkini