JAKARTA - Bubur harisah kembali menjadi sorotan di Kota Cirebon karena hadir sebagai sajian khusus saat bulan Ramadan yang dinanti oleh masyarakat setempat. Ritual memasak bubur tradisional ini diprakarsai oleh keluarga di kawasan Kampung Arab dan selalu menarik perhatian warga tiap menjelang waktu berbuka puasa. Tradisi ini terus berjalan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana Ramadan di wilayah tersebut.
Keunikan Bubur Harisah sebagai Sajian Ramadan
Bubur harisah bukanlah bubur biasa. Hidangan ini dikenal karena cita rasa rempah khas yang kuat, menggabungkan bumbu Timur Tengah dengan santan sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang berbeda dari bubur pada umumnya. Selain beras dan santan, rempah-rempah seperti jinten putih, kapulaga, kayu manis hingga cengkeh turut dipadukan bersama irisan daging kambing yang menambah kenikmatan kuliner ini.
Berbeda dengan bubur tradisional lain yang kadang dijual di pasaran, bubur harisah di Cirebon tidak diperjualbelikan. Hidangan ini dimasak khusus untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat secara gratis menjelang waktu berbuka puasa. Hal ini membuat kehadirannya semakin ditunggu oleh warga sekitar, khususnya mereka yang ingin berbuka puasa dengan sensasi rasa yang khas.
Proses Persiapan dan Pembagian Bubur
Setiap tahun, menjelang waktu berbuka di bulan Ramadan, suasana di salah satu rumah warga di Kampung Arab, Kota Cirebon, tampak sibuk dengan aktivitas memasak bubur harisah. Kesibukan ini terlihat dari persiapan rempah dan bahan utama yang dimasak dalam panci besar sejak siang hari.
Setelah selesai dimasak, bubur harisah disiapkan dalam porsi-porsi yang kemudian dibagikan kepada masyarakat. Tidak hanya dibagikan kepada warga yang datang langsung ke lokasi, namun juga didistribusikan di sekitar lingkungan masjid sehingga dapat dinikmati oleh jamaah dan masyarakat luas. Jumlah porsi yang dibagikan bisa mencapai sekitar 100 porsi tiap hari selama bulan puasa.
Warisan Budaya Turun-Temurun Keluarga Pembuat
Tradisi memasak dan membagikan bubur harisah ini sebenarnya telah berlangsung lama. Menurut salah satu pembuat bubur, tradisi tersebut sudah dilakukan oleh keluarganya sejak lama dan diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka mempertahankan cara memasak yang khas, termasuk racikan rempah yang membedakan bubur harisah dari bubur lain.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah tradisi kuliner bisa menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Bubur harisah bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol kebersamaan dan kepedulian sosial yang kuat di tengah masyarakat Cirebon.
Peran Tradisi dalam Suasana Ramadan Cirebon
Keberadaan bubur harisah selama bulan Ramadan juga turut memperkaya khasanah kuliner khas daerah. Warga Cirebon telah menjadikan bubur ini sebagai menu takjil yang selalu dirindukan di setiap bulan puasa karena hanya bisa ditemukan dalam periode waktu ini.
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini semakin memperkuat rasa kebersamaan dan semangat berbagi selama Ramadan. Kehadiran bubur harisah menjadi bagian dari rutinitas buka puasa yang tak boleh dilewatkan, terlebih karena cita rasanya yang kaya rempah dan penuh kehangatan.
Harapan dan Kelestarian Tradisi
Meski zaman terus berubah dan berbagai kuliner modern bermunculan, tradisi bubur harisah tetap dipertahankan oleh keluarga pembuatnya. Dengan tetap mempertahankan racikan rempah dan cara memasaknya yang khas, tradisi ini terus bertahan sebagai salah satu tradisi kuliner Ramadan yang unik di Indonesia.