Beras

Produksi Beras Nasional 2025 Didukung Lonjakan Luas Panen Dan Produktivitas

Produksi Beras Nasional 2025 Didukung Lonjakan Luas Panen Dan Produktivitas
Produksi Beras Nasional 2025 Didukung Lonjakan Luas Panen Dan Produktivitas

JAKARTA - Produksi beras Indonesia sepanjang tahun 2025 mencatat kenaikan yang signifikan dibandingkan 2024. 

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat mencapai 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dari total produksi 2024 sebesar 30,62 juta ton. 

Kenaikan ini tidak lepas dari peningkatan luas panen dan produktivitas padi di berbagai sentra produksi di Indonesia.

Kenaikan signifikan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional tetap terjaga, terutama di tengah permintaan yang stabil dan kebutuhan konsumsi masyarakat yang terus meningkat. 

Lonjakan produksi beras tersebut didorong oleh beberapa faktor, termasuk perbaikan sistem tanam, pemanfaatan varietas unggul, serta intensifikasi lahan yang sudah dilakukan pemerintah dan petani.

Tercatat Rp14.845 per kilogram, sementara beras medium dijual Rp13.275 per kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak serta-merta menurunkan harga beras secara drastis karena penyesuaian pasar juga memainkan peran.

Luas Panen dan Pergeseran Puncak Panen

Luas panen padi sepanjang 2025 tercatat 11,32 juta hektare, meningkat 1,27 juta hektare atau 12,69 persen dari 10,05 juta hektare pada 2024. BPS juga mencatat adanya pergeseran puncak panen. Jika tahun 2024 puncak panen terjadi pada April, maka pada 2025 terjadi pada Maret dan April, masing-masing seluas 1,67 juta hektare dan 1,65 juta hektare.

Lonjakan luas panen pada awal tahun 2025 terlihat sangat signifikan. Pada Januari 2025 tercatat 416.298 hektare, meningkat 41,84 persen dibandingkan Januari 2024. Februari 2025 mencapai 756.823 hektare, naik 63,53 persen secara tahunan, dan Maret 2025 sebesar 1.666.939 hektare, meningkat 50,60 persen dibanding Maret 2024.

Jika dilihat secara subround, Januari–April 2025 (Subround I) mencatat luas panen 4,492 juta hektare, naik 25,82 persen dari periode sama 2024. Mei–Agustus 2025 (Subround II) mencapai 3,819 juta hektare, dan September–Desember 2025 (Subround III) seluas 3,009 juta hektare. Pergeseran puncak panen ini juga memengaruhi pasokan beras bulanan, sehingga stok pangan dapat dikelola lebih baik.

Produksi Padi GKP dan GKG

Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) sepanjang 2025 tercatat 71,95 juta ton, meningkat 8,44 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan 63,51 juta ton pada 2024. Produksi tertinggi terjadi pada April dengan 10,88 juta ton, sedangkan produksi terendah terjadi pada Januari sebesar 2,61 juta ton.

Sementara itu, produksi Gabah Kering Giling (GKG) sepanjang 2025 mencapai 60,21 juta ton, naik 7,06 juta ton atau 13,29 persen dari 2024. Produksi tertinggi juga terjadi pada April sebesar 9,09 juta ton, dan terendah pada Januari 2,20 juta ton.

Jika dilihat secara subround, Januari–April 2025 menghasilkan 24,33 juta ton GKG, naik 26,57 persen dari periode sama 2024. Subround II (Mei–Agustus) menghasilkan 19,53 juta ton, dan Subround III (September–Desember) 16,35 juta ton.

Produksi Beras Bulanan dan Kumulatif

Setelah dikonversi menjadi beras untuk konsumsi penduduk, total produksi beras nasional 2025 mencapai 34,69 juta ton. Produksi tertinggi terjadi pada Maret dan April dengan 5,23 juta ton masing-masing bulan, sedangkan produksi terendah pada Januari sebesar 1,26 juta ton.

Secara kumulatif, Subround I (Januari–April 2025) menghasilkan 14,01 juta ton, naik 26,54 persen dibanding periode sama 2024. Subround II (Mei–Agustus) menghasilkan 11,26 juta ton, dan Subround III (September–Desember) sebesar 9,42 juta ton. Tambahan produksi beras sepanjang tahun 2025 dibanding 2024 mencapai 4,07 juta ton, menandakan pertumbuhan positif sektor pangan nasional.

Sebaran Produksi Menurut Provinsi

Secara spasial, tiga provinsi penghasil padi terbesar 2025 adalah Jawa Timur (6,03 juta ton), Jawa Barat (5,91 juta ton), dan Jawa Tengah (5,35 juta ton). Ketiga provinsi ini berkontribusi signifikan terhadap produksi nasional.

Di sisi lain, provinsi dengan produksi rendah adalah Papua Pegunungan (198 ton), Papua (1.061 ton), dan Papua Barat Daya (499 ton). Beberapa provinsi mencatat kenaikan tinggi, misalnya Papua Selatan meningkat 66,46 persen dari 124.355 ton menjadi 207.007 ton, sementara Nusa Tenggara Timur naik 36,81 persen menjadi 567.178 ton.

Sebaliknya, Maluku Utara mengalami penurunan produksi 27,51 persen, dan Papua turun 59,67 persen dibanding 2024. Perbedaan ini menyoroti pentingnya manajemen produksi dan distribusi pangan agar ketahanan pangan tetap merata.

Metodologi dan Potensi Awal 2026

Produksi padi dihitung dari perkalian antara luas panen bersih dan produktivitas. Luas panen menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) yang diterapkan sejak 2018 dengan 31.313 sampel segmen lahan berukuran 300 x 300 meter. Setiap bulan diamati di sembilan titik menggunakan perangkat berbasis Android, menghasilkan total 281.817 titik amatan per bulan.

Produksi beras diperoleh dari konversi gabah ke beras berdasarkan Survei Konversi Gabah ke Beras 2018, termasuk mempertimbangkan susut dan penggunaan nonpangan. Angka luas panen dan produksi 2024–2025 bersifat tetap, sementara Januari–Maret 2026 masih estimasi berdasarkan rata-rata Subround I 2024–2025.

Potensi awal 2026 menunjukkan luas panen Januari–Maret 3,28 juta hektare, naik 0,44 juta hektare atau 15,32 persen dibanding periode sama 2025. Potensi produksi GKG diperkirakan 17,65 juta ton, naik 2,41 juta ton (15,80 persen), sementara produksi beras diperkirakan 10,16 juta ton, meningkat 1,39 juta ton (15,79 persen).

Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa produksi beras nasional 2025 meningkat signifikan, ditopang oleh kenaikan luas panen dan produktivitas padi.

Pergeseran puncak panen, distribusi produksi provinsi, dan metode perhitungan yang sistematis memastikan ketersediaan pangan tetap aman. Potensi awal 2026 juga menunjukkan tren positif, sehingga ketahanan pangan nasional tetap terjaga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index