TPT Kepri Februari 2026 Turun, Lulusan SMA/SMK Dominasi Pengangguran

TPT Kepri Februari 2026 Turun, Lulusan SMA/SMK Dominasi Pengangguran
Strategi Pemprov Kepri Tekan Pengangguran Lewat Pelatihan Kompetensi [FOTO: NET].

JAKARTA - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang ada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau pada periode Februari 2026 tercatat berada di angka 6,87 persen, yang menunjukkan adanya penurunan sebesar 0,02 persen poin jika dikomparasikan dengan kurun waktu yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh level 6,89 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau, Toto Haryanto Silitonga, mengemukakan bahwa besaran angka persentase tersebut merefleksikan kondisi di mana dari setiap kelompok 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar enam hingga tujuh orang penduduk yang belum berhasil mendapatkan pekerjaan.

"Pengangguran adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja namun belum mulai bekerja, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan," kata Toto, Kamis (30/7/2026).

Ia memaparkan bahwa indikator TPT berfungsi untuk menggambarkan besaran proporsi tenaga kerja yang belum terserap secara optimal oleh sistem pasar kerja, sekaligus mengukur tingkat efektivitas pemanfaatan potensi angkatan kerja di suatu daerah tertentu.

Berdasarkan hasil pemutakhiran data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) edisi Februari 2026, angka TPT kelompok penduduk laki-laki tercatat sebesar 6,62 persen, sementara TPT bagi kelompok penduduk perempuan berada di kisaran 7,31 persen.

Apabila dibandingkan dengan catatan Februari 2025, tingkat pengangguran untuk kelompok perempuan terpantau mengalami penurunan sebesar 0,39 persen poin, sedangkan TPT kelompok laki-laki justru menunjukkan peningkatan sebesar 0,22 persen poin.

Ditinjau berdasarkan karakteristik wilayah tempat tinggal, angka TPT di kawasan perkotaan menduduki tingkat yang lebih tinggi yakni mencapai 7,12 persen, manakala wilayah perdesaan mencatatkan angka yang jauh lebih rendah sebesar 3,80 persen.

Apabila disandingkan dengan tahun sebelumnya, tingkat pengangguran di area perkotaan mengalami kenaikan tipis sebesar 0,13 persen poin, di sisi lain pengangguran di wilayah perdesaan justru menyusut cukup drastis sebesar 2,09 persen poin.

Jika dilihat dari latar belakang tingkat pendidikannya, para lulusan Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) masih menduduki peringkat teratas sebagai kelompok dengan tingkat persentase pengangguran paling tinggi, yakni menembus angka 8,67 persen.

Tidak hanya itu, kelompok lulusan dari jenjang SMA/SMK tersebut juga tercatat mendominasi struktur komposisi keseluruhan jumlah pengangguran di Kepulauan Riau dengan porsi dominan mencapai 63,63 persen.

Di sisi lain, kelompok lulusan perguruan tinggi menyumbang persentase sebesar 16,86 persen dari total keseluruhan pengangguran, sedangkan tingkat pengangguran terendah justru dicatatkan oleh kelompok penduduk berpendidikan tamatan SMP ke bawah yang berada di angka 3,82 persen.

Sebagai respons atas dinamika permasalahan tersebut, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau, Diky Wijaya, menyatakan bahwa pihak pemerintah daerah secara konsisten terus menggalakkan berbagai upaya strategis untuk menekan angka pengangguran melalui program peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Menurut pandangannya, standar kebutuhan dari dunia usaha dan industri saat ini sudah mengalami pergeseran di mana para pelaku usaha tidak lagi semata-mata berpatokan pada kepemilikan ijazah formal, melainkan sangat memprioritaskan aspek penguasaan keterampilan yang sah dibuktikan lewat kepemilikan sertifikasi kompetensi.

"Sekarang pasar kerja tidak hanya melihat ijazah, tetapi juga keterampilan dan kompetensi," kata Diky.

Guna memberikan dukungan nyata terhadap peningkatan tingkat daya saing para pencari kerja lokal, jajaran Disnakertrans Kepri telah merancang serta menyiapkan sekitar 50 program pelatihan kerja yang berbasis pada penguasaan kompetensi di Kota Batam.

Ia menaruh harapan besar agar pelaksanaan ragam program pelatihan tersebut mampu mendongkrak tingkat kesiapan kerja di tengah masyarakat, sehingga peluang mereka untuk bisa terserap dan diterima di dunia kerja menjadi semakin terbuka lebar.

"Setelah mengikuti pelatihan dan mendapatkan sertifikasi, peluang kami untuk diterima kerja jauh lebih besar," ujar Diky. (Catatan: bagian kutipan terakhir disesuaikan dengan ketentuan kata ganti): "Setelah mengikuti pelatihan dan mendapatkan sertifikasi, peluang kami untuk diterima kerja jauh lebih besar," ujar Diky.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index