JAKARTA - Program penyerapan gabah oleh Perum Bulog akan tetap berlangsung di Kabupaten Sleman pada 2026.
Langkah ini menjadi solusi bagi petani yang kerap kali terjebak dalam ketidakpastian harga gabah, terutama saat berhadapan dengan tengkulak yang kerap membeli gabah dengan harga di bawah standar pasar.
Keberlanjutan program ini tidak hanya memberi kepastian harga, tetapi juga menjadi angin segar bagi perekonomian petani di Sleman, yang dikenal sebagai salah satu penghasil gabah utama di Yogyakarta.
Dalam penjelasannya, Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, memastikan bahwa penyerapan gabah tetap akan dilakukan seperti tahun sebelumnya.
Meski target penyerapan gabah untuk tahun ini belum diumumkan secara rinci oleh Perum Bulog, mekanisme dan prosedur yang ada dipastikan berjalan lancar. Petani di Sleman dapat dengan mudah mendaftar untuk mengikuti program ini dengan bantuan petugas penyuluh lapangan (PPL).
Mekanisme Penyerapan Gabah yang Mempermudah Petani
Penyerapan gabah oleh Bulog di Kabupaten Sleman berjalan dengan lancar berkat koordinasi yang baik antara petani dan PPL. Rofiq menambahkan bahwa petani dapat langsung mendaftar ke PPL setempat dan prosesnya akan dikoordinasikan dengan tim Bulog untuk memastikan kelancaran dan kesesuaian antara hasil panen dan prosedur penyerapan.
Hal ini tentu memberikan rasa aman bagi petani yang sebelumnya sering kali mengalami masalah terkait harga jual gabah.
Pada dasarnya, petani hanya perlu memberikan informasi mengenai rencana panen mereka minimal dua hari sebelum kegiatan panen berlangsung. Hal ini bertujuan agar petugas Bulog dapat melakukan pengecekan lokasi dan memastikan bahwa lahan yang digunakan untuk panen berada dalam wilayah Kabupaten Sleman.
Selain itu, gabah yang akan diserap harus telah dikemas dalam karung dengan berat minimal 1 hingga 2 ton per pengambilan. Proses administrasi pun dijalankan dengan sistem yang jelas, mulai dari penandatanganan surat permohonan pembayaran hingga surat kuasa transfer jika rekening tujuan berbeda.
Sistem Pembayaran Cashless untuk Memudahkan Transaksi
Salah satu aspek penting dalam program penyerapan gabah ini adalah sistem pembayaran yang telah diubah menjadi nontunai (cashless). Rofiq menilai bahwa sistem ini meminimalkan potensi masalah yang bisa muncul di lapangan, baik bagi petani maupun petugas Bulog.
Pembayaran langsung ditransfer ke rekening petani setelah proses penyerapan selesai, sehingga petani bisa segera merasakan manfaat dari program ini tanpa perlu menunggu lama. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan rasa aman bagi petani.
Namun, meski proses pembayaran berjalan lancar, Rofiq mengingatkan bahwa edukasi terkait sistem cashless harus terus dilakukan. Hal ini penting agar semua pihak, terutama petani, dapat memahami cara menggunakan sistem pembayaran tersebut dengan mudah. Dengan demikian, kendala yang berkaitan dengan transaksi dapat diminimalisir.
Peningkatan Penyerapan Gabah di Sleman
Pada tahun 2025, Kabupaten Sleman mencatatkan produksi gabah kering panen (GKP) sebanyak 212.118 ton. Produksi ini menjadi dasar penyerapan gabah yang dilakukan oleh Bulog di wilayah ini.
Gabah yang diserap oleh Bulog akan melalui beberapa proses, termasuk pengeringan dan penggilingan menjadi beras medium. Harga pembelian gabah yang ditetapkan Bulog adalah Rp6.500 per kilogram GKP, yang menjadi acuan bagi petani untuk menjual hasil panennya.
Manajer Administrasi dan Keuangan Bulog DIY, Joko Afrizal, menjelaskan bahwa Bulog memastikan kualitas gabah yang diserap sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Setelah gabah diserap, Bulog akan mengolahnya menjadi beras yang kemudian akan dijual ke pasar dengan harga yang stabil.
Hal ini diharapkan dapat menjaga kestabilan harga beras di pasaran dan memberikan kepastian kepada konsumen.
Kehadiran Tengkulak dalam Proses Penyerapan
Meskipun program penyerapan gabah oleh Bulog sudah berjalan lancar, Joko Afrizal mengakui bahwa masih ada peran tengkulak dalam transaksi gabah di Kabupaten Sleman. Tengkulak sering kali membeli gabah dari petani dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar, yang dapat merugikan petani.
Namun, program Bulog ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak dengan memberikan kepastian harga dan sistem penyerapan yang lebih transparan.
Tengkulak sendiri sering menjadi pilihan petani karena proses penjualan gabah yang lebih cepat dan mudah. Namun, dalam banyak kasus, tengkulak menawarkan harga yang jauh lebih rendah daripada harga pasar.
Dengan adanya program penyerapan gabah oleh Bulog, petani dapat memiliki pilihan untuk menjual gabah mereka dengan harga yang lebih baik, tanpa harus bergantung pada tengkulak yang sering kali merugikan.
Dampak Positif Program Penyerapan Gabah bagi Petani
Program penyerapan gabah yang dijalankan oleh Bulog memberikan dampak positif yang signifikan bagi petani di Kabupaten Sleman.
Dengan harga yang lebih stabil dan kepastian pembelian gabah, petani tidak perlu khawatir dengan ketidakpastian harga pasar yang sering kali membuat mereka terjebak dalam kerugian. Selain itu, sistem pembayaran yang cepat dan efisien juga membantu petani untuk segera menikmati hasil penjualan gabah mereka.
Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan produksi gabah di Kabupaten Sleman, karena petani merasa lebih terjamin dalam menjual hasil panennya. Dengan adanya Bulog sebagai pembeli utama gabah, petani memiliki jaminan bahwa gabah yang mereka hasilkan akan diserap dengan harga yang wajar.
Dengan keberlanjutan program penyerapan gabah oleh Bulog, petani di Kabupaten Sleman dapat menikmati stabilitas harga dan akses yang lebih baik untuk menjual gabah mereka.
Langkah ini juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak dan memperkuat posisi petani dalam menghadapi dinamika pasar.