Freeport Siapkan Kembali Operasi GBC dan Genjot Kapasitas Produksi 2026

Selasa, 03 Februari 2026 | 09:37:52 WIB

JAKARTA - Freeport Indonesia akan memulai kembali operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang sempat terhenti akibat insiden longsor pada September 2025. Perusahaan menargetkan agar aktivitas di area tersebut sudah mulai berjalan pada kuartal I–II 2026. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kapasitas produksi yang sempat menurun drastis sejak insiden.

Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyatakan bahwa perusahaan terus menyelesaikan perbaikan infrastruktur dan kondisi kerja di tambang GBC agar bisa kembali beroperasi secara bertahap. Langkah ini dianggap penting untuk memastikan pasokan bijih mineral yang sempat terganggu dapat kembali normal.

Strategi Restart Bertahap dan Target Produksi

Freeport-McMoRan Inc., perusahaan induk dari Freeport Indonesia, telah merencanakan strategi restart bertahap (phased restart) di GBC. Menurut rencana internal, beberapa blok produksi di tambang bawah tanah akan mulai beroperasi lebih dulu pada kuartal II 2026, dengan target mencapai sekitar 85% dari kapasitas produksi normal pada paruh kedua tahun itu.

Dengan restart bertahap ini, perusahaan menargetkan produksi tembaga dan emas dari PT Freeport Indonesia akan mendekati volume perkiraan tahun sebelumnya—sekitar 1,0 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa meskipun produksi belum sepenuhnya pulih, tren peningkatan mulai terlihat seiring waktu.

Dampak Insiden dan Upaya Pemulihan

Insiden longsor material basah di GBC pada 8 September 2025 sempat menghentikan seluruh kegiatan operasional di area tersebut dan berdampak pada produksi keseluruhan. Produksi konsentrat yang biasa menjadi pasokan utama smelter di Gresik sempat terganggu karena sumber bahan bakunya terhenti.

Sejak kejadian itu, Freeport Indonesia fokus pada pemulihan tambang serta memenuhi syarat keselamatan kerja agar operasional bisa dilanjutkan. Dua tambang lain yang tidak terdampak longsor—Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan—telah kembali beroperasi dan memberikan kontribusi produksi, meskipun belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan smelter.

Perbaikan infrastruktur dan evaluasi keselamatan menjadi fokus utama sebelum aktivitas produksi di GBC bisa dilanjutkan sepenuhnya. Hal ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap keselamatan pekerja dan lingkungan tambang.

Peran Pemerintah dan Target Operasi

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) turut memberi target operasional terbatas bagi GBC. Menteri ESDM menargetkan bahwa tambang tersebut dapat kembali beroperasi secara terbatas pada awal 2026, setelah melakukan evaluasi dan perbaikan berdasarkan rekomendasi keselamatan.

Selain itu, izin serupa telah diberikan untuk tambang DMLZ dan Big Gossan yang tidak terdampak langsung insiden longsor. Meski demikian, pemerintah memastikan proses evaluasi keselamatan berjalan hati-hati sehingga tidak menggangu aspek keselamatan pekerja.

Kesiapan Smelter dan Dampaknya pada Rantai Pasokan

Pemulihan tambang GBC menjadi salah satu penentu penting agar pasokan bijih tambang bisa kembali stabil dan mendukung operasi smelter PT Smelting di Gresik. Tanpa pasokan bijih yang memadai, smelter tidak dapat berproduksi optimal, yang berdampak pada hilirisasi mineral dan target produksi nasional.

PT Freeport Indonesia memastikan bahwa fasilitas smelter siap beroperasi kembali begitu pasokan bijih dari tambang bawah tanah GBC telah mencukupi. Meski saat ini pasokan masih terbatas, perusahaan fokus pada pemeliharaan dan persiapan teknis agar smelter dapat langsung berjalan saat pasokan bijih kembali normal.

Harapan Produksi dan Prospek Jangka Menengah

Dengan dimulainya kembali operasi tambang GBC secara bertahap, Freeport berharap dapat meningkatkan produksi dan mendukung target jangka menengah hingga akhir dekade ini. Meskipun estimasi produksi awal diproyeksikan sekitar level 2025, peningkatan bertahap diprediksi akan terus berlanjut hingga menjelang 2027 serta seterusnya.

Pemulihan ini tidak hanya penting bagi Freeport sebagai perusahaan tambang, tetapi juga bagi pasokan tembaga dan emas nasional serta global, mengingat posisi tambang GBC sebagai salah satu sumber cadangan terbesar di dunia.

Dengan demikian, langkah Freeport dalam membawa kembali operasi GBC menggambarkan upaya strategis yang matang dan terencana untuk memulihkan produksi pascainsiden longsor, sekaligus menjawab kebutuhan industri hilirisasi mineral di Indonesia.

Terkini