Produksi Jagung Pipilan hingga September 2026 Diproyeksi Turun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:12:32 WIB
Produksi Jagung Pipilan Kering Diproyeksikan Susut di September 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi jagung pipilan kering periode Januari–September 2026 bakal mengalami penurunan seiring menyusutnya luas area panen ketimbang periode serupa di tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengutarakan bahwa estimasi akumulasi produksi jagung pipilan kering kadar air 14% (JPK-KA14%) pada Januari–September 2026 berada di angka 12,67 juta ton.

“Produksi tersebut berkurang 0,14 juta ton atau turun 1,07% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025,” ujarnya dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (3/8/2026).

Penurunan perolehan juga diperkirakan terjadi pada triwulan Juli–September 2026. Hasil panen pada kurun waktu ini diproyeksikan menyentuh 3,98 juta ton atau berkurang 280.000 ton (6,48%) dibanding masa yang sama tahun lalu.

Di samping itu, output jagung pipilan kering pada Juni 2026 ditaksir sebesar 1,50 juta ton, lebih rendah jika disandingkan dengan realisasi Juni 2025 yang berada di level 1,55 juta ton.

BPS memetakan 10 wilayah yang diproyeksikan menjadi penghasil JPK-KA14% terbesar pada Januari–September 2026, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Gorontalo, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.

Ateng memaparkan bahwa penurunan hasil panen tersebut berbanding lurus dengan tergerusnya luas lahan panen jagung pipilan. 

Mengacu pada Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Juni 2026, cangkupan panen pada bulan tersebut diperkirakan seluas 250.000 hektare, melandai dari capaian Juni 2025 sebesar 260.000 hektare.

Prospek luas panen kurun Juli–September 2026 diperkirakan berada di angka 670.000 hektare atau terkoreksi 4,39% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Melalui dinamika tersebut, total area panen jagung pipilan sepanjang Januari–September 2026 diproyeksikan mencapai 2,17 juta hektare atau berkurang 30.000 hektare (1,20%) ketimbang periode sama pada 2025.

Ateng menegaskan bahwa data tersebut masih berupa proyeksi potensi sehingga tetap bisa berubah menyesuaikan dinamika tanaman dan kondisi di lapangan, seperti serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga penyesuaian jadwal panen petani.

“Potensi luas panen ini sudah termasuk tanaman jagung yang akan dipanen, bukan untuk pipilan. Misalnya, yang dipanen muda atau dipanen untuk hijauan pakan ternak,” tutupnya.

Terkini