KSSK: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:03:31 WIB
KSSK Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga di Kuartal II 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjamin stabilitas sektor fiskal, moneter, dan keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang triwulan II 2026 kendati ketidakpastian global meningkat terimbas eskalasi konflik geopolitik serta gejolak pasar keuangan internasional.

Ketua KSSK yang juga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa ketahanan ekonomi dalam negeri masih tangguh berkat sinergi erat antarotoritas, walaupun tekanan dari luar kembali menguat.

"KSSK menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan II 2026 tetap terjaga di tengah konflik geopolitik yang kembali meningkat, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas," kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK di Kantor LPS, Jakarta Selatan, Senin (3/8/2026).

Menurut Purbaya, tekanan eksternal dipicu oleh memanasnya konflik geopolitik, lonjakan harga energi, ketidakstabilan pasar keuangan global, hingga gejolak pada nilai tukar dan arus modal.

Meski demikian, Purbaya menegaskan perekonomian Indonesia masih memperlihatkan daya tahan yang tecermin dari laju pertumbuhan ekonomi yang solid serta sektor keuangan yang stabil.

Oleh sebab itu, KSSK bakal terus memantau dinamika risiko eksternal lewat penilaian yang bersifat forward-looking demi memelihara stabilitas makroekonomi sekaligus mengawal momentum pertumbuhan ekonomi.

"KSSK akan terus mencermati dan melakukan assessment forward-looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi baik antarlembaga anggota KSSK maupun dengan kementerian/lembaga lain," ujar Purbaya.

Purbaya menerangkan, konstelasi global pada kuartal II 2026 masih dibayangi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu kelancaran pasokan energi, mendongkrak harga minyak serta komoditas utama, hingga memperbesar risiko terhadap perdagangan dunia dan rantai pasokan global.

Kondisi tersebut memicu gelombang inflasi di bermacam negara sekaligus mempersempit ruang penyesuaian kebijakan moneter di negara-negara maju.

Di Amerika Serikat, proyeksi kenaikan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) meningkat menyusul risiko inflasi yang masih tinggi serta ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan fiskal.

Dinamika itu kata Purbaya turut memicu penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan yield obligasi, serta derasnya arus modal keluar dari negara-negara berkembang.

Risiko global kembali menanjak pada Juli 2026 setelah perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, walau sebelumnya sempat mereda selepas tercapainya kesepakatan sementara pada pertengahan Juni.

Merujuk pada laporan World Economic Outlook Update Juli 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi 3,0 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan estimasi April sebesar 3,1 persen.

Di lingkup domestik, Purbaya menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diproyeksikan tetap kokoh.

Konsumsi rumah tangga masih disokong oleh daya beli masyarakat yang terjaga lewat berbagai program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, perluasan lapangan kerja, serta dorongan stimulus selama masa libur sekolah.

Sementara itu, sektor investasi diperkirakan tetap tumbuh positif ditopang proyek-proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi serta pembangunan infrastruktur prioritas pemerintah.

Di sisi lain, belanja pemerintah juga diperkirakan meningkat seiring percepatan alokasi program prioritas, penyaluran gaji ke-13 aparatur negara, serta pembagian bantuan sosial.

Purbaya mengimbuhkan bahwa sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat demi mengamankan likuiditas perekonomian dan sektor perbankan.

Hal tersebut kata Purbaya tecermin dari laju pertumbuhan uang primer yang tetap tinggi sepanjang kuartal II dan menyentuh 15,4 persen pada Juli 2026, diimbangi fungsi intermediasi perbankan yang kian membaik.

Meskipun aktivitas manufaktur sempat melambat pada akhir kuartal II 2026, sektor tersebut kembali bergeliat dan berekspansi pada Juli dengan capaian indeks PMI manufaktur di level 50,2.

Ke depan, KSSK optimistis kolaborasi kebijakan antarlembaga akan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Melalui dukungan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan berada pada rentang 5,6 persen hingga 6 persen secara tahunan.

Terkini