Kemendag: Tempe Berpeluang Jadi Produk Unggulan di Pasar AS

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:07:31 WIB
Minat Tinggi, Tempe Berpeluang Tembus Pasar Pangan Nabati AS [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) lewat perwakilan Atase Perdagangan RI Washington D.C mengutarakan bahwa komoditas pangan olahan asal Indonesia, termasuk tempe, mencetak potensi nilai transaksi mencapai 8,3 juta dolar AS atau berkisar Rp150,7 miliar pada ajang pameran Summer Fancy Food Show (SFFS) di New York, Amerika Serikat.

Atase Perdagangan (Atdag) RI Washington D.C. Ranitya Kusumadewi mengemukakan bahwasanya pameran tersebut sukses membentangkan peluang bagi tempe guna tampil sebagai salah satu produk olahan Indonesia yang berpotensi merambah pasar AS.

"Kami terus mengawal berbagai tindak lanjut dari penjajakan bisnis (business matching) yang terjadi selama pameran agar potensi transaksi dapat terealisasi menjadi kontrak ekspor. Selain potensi transaksi, kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat," ujar Ranitya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Ranitya memaparkan bahwasanya merujuk dari deretan agenda perjumpaan bisnis bersama calon pembeli, tempe dipandang sebagai salah satu produk olahan Indonesia yang mengantongi prospek paling menjanjikan untuk dipasarkan di AS.

Hal tersebut dipicu oleh melesatnya tren konsumsi pangan berbasis nabati (plant-based food), hidangan hasil fermentasi, beserta pola hidup sehat (healthy lifestyle) yang mendongkrak permintaan terhadap lini produk berbahan dasar nabati. 

Situasi ini memicu lahirnya peluang bagi tempe untuk menjadi salah satu produk andalan (champion product) Indonesia pada pasar AS.

"Tingginya minat buyer perlu diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pemenuhan standar mutu, serta penguatan kemasan dan strategi pemasaran. Dengan demikian, peluang bisnis yang tercipta dapat berlanjut menjadi ekspor yang berkelanjutan," jelas Ranitya.

Pada perhelatan kali ini, Paviliun Indonesia memboyong enam pelaku usaha beserta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk-produk yang dipajang mencakup komoditas kopi, kakao berikut olahan cokelat, camilan, hingga produk mi instan.

Turut disajikan pula ragam pangan sehat seperti tempe, sajian berbasis kelapa, racikan bumbu dan rempah, madu murni, gula aren, hingga aneka kreasi pangan olahan.

Negara AS menempati posisi sebagai pasar ekspor pangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah Tiongkok. Pada tahun 2025, angka nilai ekspor produk pangan Indonesia menuju AS mencapai 5,97 miliar dolar AS, melonjak 14,06 persen ketimbang pencapaian tahun sebelumnya sebesar 5,23 miliar dolar AS.

Besaran nilai tersebut memberi sumbangsih sekitar 10,1 persen terhadap total keseluruhan ekspor pangan Indonesia ke mancanegara yang menyentuh angka 59,04 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Dalam kurun lima tahun pamungkas, nilai ekspor sektor pangan Indonesia ke pasar AS tercatat bergerak fluktuatif, yaitu berada di angka 5,62 miliar dolar AS pada 2021, naik menjadi 6,03 miliar dolar AS (2022), terkoreksi ke 4,96 miliar dolar AS (2023), merambat ke 5,23 miliar dolar AS (2024), hingga mencapai 5,97 miliar dolar AS (2025). 

Pada rentang Januari–Mei 2026, total nilai perdagangan Indonesia bersama AS menembus angka 18,44 miliar dolar AS.

Dari total besaran tersebut, pencapaian ekspor Indonesia menyentuh 12,73 miliar dolar AS, sedangkan nilai impor berada di level 5,71 miliar dolar AS, sehingga Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar 7,02 miliar dolar AS.

Sepanjang tahun 2025, total neraca perdagangan antar kedua negara mencapai 43,80 miliar dolar AS, dengan kontribusi nilai ekspor Indonesia sebesar 30,96 miliar dolar AS dan angka impor sebesar 12,85 miliar dolar AS. Pada periode tahun tersebut, Indonesia juga berhasil mengantongi surplus perdagangan menembus 18,11 miliar dolar AS.

Terkini