Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp18.111 per Dolar AS Usai The Fed Tahan Suku Bunga

Kamis, 30 Juli 2026 | 20:47:31 WIB
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.111 per Dolar AS pada Kamis Sore [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot merosot tajam pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026). Rupiah terdepresiasi 38 poin atau 0,21 persen menuju level Rp18.111 per dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar mata uang Garuda ini mengakhiri perdagangan hari ini dengan tingkat pelemahan yang kian mendalam dibandingkan saat pembukaan yang bertengger pada posisi Rp18.063 per dolar AS, setelah terkoreksi 10 poin atau 0,06 persen.

Di lain sisi, indeks dolar AS (DXY) yang memetakan pergerakan dolar terhadap jajaran mata uang utama dunia berbalik menguat. Hingga pukul 15.00 WIB, DXY merangkak naik 0,17 persen menuju kisaran 101,052.

Kondisi tersebut terjadi kala pasar mencermati ketetapan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada level 3,50-3,75 persen.

Kembalinya keperkasaan dolar AS menjadi faktor penekan bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, usai para pelaku pasar kembali menakar arah kebijakan moneter The Fed serta laju perekonomian global.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menilai bahwa kemerosotan rupiah lebih dominan dipicu oleh penguatan dolar AS, seiring melonjaknya ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, bakal menahan suku bunga acuan pada tingkatan tinggi dalam durasi yang lebih lama.

Menurutnya, pelaku pasar bahkan mulai mengkalkulasi potensi kenaikan suku bunga jikalau tekanan inflasi global kembali merambat naik akibat lonjakan harga energi.

Selain itu, kembali memanasnya konflik antara AS dan Iran memicu harga minyak bertahan di kisaran tinggi. 

Situasi ini kian memperkuat permintaan atas dolar AS sebagai petrodolar sekaligus meningkatkan kecemasan akan bahaya inflasi impor (imported inflation) di negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

“Kombinasi faktor tersebut menjadi tekanan utama yang menahan penguatan mata uang Garuda,” ujar Brahmantya.

Untuk sesi perdagangan Kamis (30/7/2026), Brahmantya sebelumnya memproyeksikan pergerakan rupiah masih bakal terpengaruh oleh dinamika konflik AS-Iran, serta situasi arus lalu lintas energi di Selat Hormuz.

Di samping itu, dinamika pergerakan DXY serta rilis data perekonomian AS, terkhusus sektor inflasi dan pasar tenaga kerja, turut menjadi poin perhatian utama para investor.

“Selama harga minyak masih tinggi dan pasar memperkirakan The Fed tetap hawkish, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan mereda,” papar dia.

Ia menggarisbawahi, tantangan terbesar rupiah saat ini bukan cuma berhulu dari penguatan indeks dolar AS, melainkan juga bertambahnya kebutuhan valuta asing untuk transaksi energi internasional.

Oleh sebab itu, langkah responsif Bank Indonesia melalui intervensi di pasar valuta asing beserta kebijakan stabilisasi kurs dinilai sangat ditunggu guna membendung pelemahan rupiah lebih lanjut.

Dengan mempertimbangkan pelbagai sentimen tersebut, Brahmantya memproyeksikan nilai tukar rupiah bakal bergerak fluktuatif pada sesi perdagangan Kamis.

Terkini