AirAsia (AAID) Pangkas Kerugian Operasional 6,9% di Semester I/2026

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:00:31 WIB
AirAsia Indonesia Pangkas Kerugian 6,9% Lewat Efisiensi dan Harga Tiket [FOTO: NET].

JAKARTA - PT AirAsia Indonesia Tbk. (AAID) sukses mencatatkan pencapaian dalam memangkas angka kerugian operasional hingga sebesar 6,9% menjadi Rp678,4 miliar pada kurun waktu semester I 2026.

Direktur Utama AirAsia Indonesia Achmad Sadikin Abdurachman menjelaskan sepanjang semester I telah terjadi lonjakan harga avtur dunia sebesar 46,7% (yoy) yang memicu pembengkakan biaya bahan bakar maskapai hingga 26,1%, menjadi Rp1,99 triliun. 

Kondisi ini kian menantang akibat nilai tukar rupiah yang melemah 5,0% terhadap dolar AS. Namun, lewat penataan rute penerbangan dan efisiensi biaya yang ketat, Indonesia AirAsia berhasil meredam dampak tersebut.

Total perolehan pendapatan perseroan tercatat berada di kisaran angka Rp3,91 triliun, yang mengalami penurunan tipis sebesar 1,8% apabila dikomparasikan dengan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp3,98 triliun.

Penyesuaian pendapatan ini merupakan manifestasi dari langkah terukur yang diambil oleh pihak Indonesia AirAsia dalam mengelola kapasitas terbang, di mana perusahaan secara strategis lebih memprioritaskan rute-rute penerbangan yang memberikan tingkat keuntungan optimal ketimbang semata-mata mengejar besaran volume jumlah penumpang.

Sumbangan terbesar pemasukan berasal dari lini penjualan tiket penerbangan Indonesia AirAsia yang berkontribusi sebesar Rp3,31 triliun. 

Sementara itu, perolehan pendapatan yang bersumber dari layanan tambahan (ancillary revenue) menyumbang angka sebesar Rp595 miliar, yang didukung secara signifikan oleh kontribusi layanan bagasi, penyediaan makanan di dalam kabin pesawat (in-flight meals), penerbangan sewa (charter), serta sektor kargo udara.

Indonesia AirAsia melakukan penyesuaian terhadap total keseluruhan kapasitas layanan penerbangan menjadi sebanyak 3,44 juta kursi penumpang atau mengalami penurunan sebesar 4,2%, yang ditempuh melalui penataan ulang rute serta alokasi armada pesawat.

Guna mengimbangi hantaman lonjakan harga avtur global, tarif harga rata-rata tiket penumpangnya dinaikkan sebesar 4,9% menjadi Rp1,13 juta. 

Langkah strategis ini terbukti berhasil mendongkrak perolehan Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) sebesar 17,4% menjadi Rp854, yang menunjukkan bahwa kualitas pendapatan perusahaan menunjukkan tren perbaikan yang semakin positif.

Di sisi lain, antusiasme minat masyarakat untuk terbang terpantau masih berada di level yang tinggi, terbukti dengan suksesnya perusahaan mengangkut sebanyak 2,83 juta penumpang dari total 19.125 penerbangan, dengan tingkat keterisian kursi pesawat (load factor) yang mampu bertahan kokoh di angka tinggi yaitu 82%.

"Semester pertama 2026 menjadi periode ujian bagi daya tahan industri penerbangan global dalam menghadapi lonjakan biaya operasional. Alih-alih mengejar volume penumpang yang tidak efisien, Indonesia AirAsia bergerak cepat menyesuaikan kapasitas, memangkas rute yang kurang potensial, dan menyesuaikan harga tiket dengan tetap mempertahankan load factor di angka 82%," kata Achmad dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (29/7/2026).

Meninjau dari aspek manajemen pengelolaan struktur biaya, perseroan secara konsisten terus memberlakukan disiplin tingkat anggaran yang ketat. Hal tersebut tercermin dari indikator Cost per Available Seat Kilometer (CASK ex-fuel) yang sukses ditekan turun sebesar 1,2%.

Keberhasilan efisiensi internal ini dinilai efektif dalam meredam gelombang lonjakan beban operasional, sehingga pada akhirnya perseroan sukses membukukan pencapaian pemangkasan kerugian sebesar 6,9%.

"Fokus kami pada efisiensi biaya internal, terutama pemangkasan anggaran pemasaran non-esensial dan penataan jadwal perawatan pesawat, berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 2,2% sekaligus menekan kerugian operasional utama kami di 6,9%," jelasnya.

Memasuki paruh paruh waktu semester II 2026 mendatang, pihak perseroan akan memusatkan fokus utamanya pada upaya mempercepat pemulihan kinerja bisnis melalui optimalisasi rute-rute penerbangan yang memiliki potensi tinggi, meningkatkan utilisasi armada, serta menerapkan efisiensi operasional secara menyeluruh.

Langkah taktis ini turut pula disokong kuat oleh integrasi bersama ekosistem bisnis AirAsia Group, utamanya melalui optimalisasi layanan penerbangan lanjutan (Fly-Thru) yang menghubungkan para penumpang Indonesia AirAsia menuju lebih dari 150 destinasi jaringan wilayah di kawasan Asia-Pasifik.

"Ke depan, kami akan terus mencermati perkembangan pasar dengan mengedepankan fleksibilitas operasional dan disiplin struktur biaya. Langkah terukur ini menjadi kunci utama untuk menjaga keberlanjutan bisnis perseroan, sambil tetap menghadirkan layanan penerbangan yang berkualitas dan terjangkau bagi para penumpang," sebut Sadikin.

Terkini